Berhitung Dengan Kata

Desember 12, 2009

PLATO DAN SENI

Filed under: esai — be beep @ 3:55 am
Tags: , , , , , ,

Di buku terjemahan karangan T.Z. LavineSeri Petualangan Filsafat: Pengetahuan adalah Kebijaksanaan” (Judul Asli: From Socrates to Sartre) yang diterbitkan oleh penerbit Jendela, Yogyakarta, disebutkan bahwa Plato “kurang suka” dengan seni dan sastra; bahwa seni itu hanya merupakan wujud imajinasi yang jika dirangking, maka imajinasi menduduki posisi terbawah dari “perkembangan pemikiran”–urutan pertama tentu saja: logika. Dari sini, terkesan bahwa Plato menganggap rendah seni dan sama sekali tidak tertarik. Belum lagi di buku tersebut dikatakan bahwa sikap Plato tersebut dikarenakan oleh kecurigaannya pada para seniman yang mungkin menyembunyikan sesuatu di balik simbol-simbol yang digunakannya pada karya seninya.

Namun, setelah membaca Bab ION di “The Complete Works of Plato” karya Benjamin Jowett dan Moh. Ellwany (Jowett sebagai penerjemah dan pemberi analisis sedangkan Moh Elwany sebagai pengumpul naskah) saya justru mengartikan sebaliknya.

Dalam Bab Ion, digambarkan Socrates sedang berbincang dengan seorang pendeklamasi (rhapsode) karya sastra Homer bernama Ion. Inti cerita ialah bahwa Socrates ingin menunjukkan pada Ion, bahwa apa yang dihasilkan Homer (sastrawan yang dikagumi Ion) bukanlah wujud karya seni melainkan inspirasi. Begitu pula yang dilakukan oleh Ion, bukanlah wujud seni melainkan ia dapat melakukannya berdasar inspirasi. Sepintas memang terkesan “merendahkan” namun ketika saya sampai pada bagian dimana Plato menyebutkan bahwa sifat seni itu menciptakan dan karena hanya Tuhan saja yang mampu menciptakan, saya baru paham. Menurut saya, alih-alih ingin merendahkan, Plato justru meninggikan posisi seni dimana ia bukanlah sesuatu yang dimiliki manusia melainkan Tuhan. Benar kalau yang menciptakan itu Tuhan dan seniman-seniman itu hanyalah “peniru” saja. Seniman di suatu masa, bisa dibilang, mendapat pengaruh atau kasarnya “meniru” seniman zaman sebelumnya hingga jika dirunut sampai ke belakang dimana seniman pertama “meniru” karya seni abadi: Alam, tetap saja dia mendapatkan ide berkarya seni dari inspirasi (baca: inspirasi dari alam).

Analogi Magnet

Dengan menggunakan perumpamaan sebatang magnet dan benda-benda metal yang tertarik oleh magnet tersebut (sebagaimana digambarkan oleh Plato dalam bab itu), kita bisa mengumpamakan Tuhan sebagai magnet dan seniman atau para utusan sebagai metal yang tertarik. “Seni” adalah sifat alami magnet yang menarik dan berada di dalam magnet sedangkan apa yang tersalur pada metal hanyalah sedikit daya tarik magnet yang disebut “inspirasi”. Seni adalah keseluruhan sedangkan inspirasi hanyalah sebagian. Jadi, menurut Plato, seorang seniman tidak berhak menyebut karyanya sebagai hasil seni melainkan hasil inspirasi. Karena apa yang dibuatnya hanyalah sebagian.

Masih dengan perumpamaan magnet, Plato juga menyebutkan bahwa magnet dapat menarik benda metal dan membuatnya “mewarisi” sifat menarik (induksi) sehingga benda metal itu mampu menarik metal lain. Ini artinya, kesan seni yang timbul pada hasil inspirasi adalah wajar karena proses induksi dari magnet ke metal (dari Seni ke Inspirasi; Tuhan ke Seniman) membuat sifat magnet masuk ke dalam metal sehingga metal tampak seperti magnet–untuk sementara. Sebagian besar orang berpikir besi tersebut adalah magnet dan sebagian lain mengatakan metal itu telah menjadi magnet. Pada kenyataannya, kemagnetan yang dimiliki magnet lebih besar daripada “metal yang menjadi magnet” sehingga bisa dikatakan, meski memiliki sifat menarik seperti magnet, metal itu bukanlah magnet. Atau jika ada yang ingin keukeuh menyebutnya sebagai magnet, sepantasnya kata magnet itu disertai tanda petik sehingga menjadi “magnet”–untuk membedakan dari magnet yang pertama.

Plato secara ekstrem memperlihatkan perbedaan tersebut. Meskipun “magnet” dan magnet itu sama-sama memiliki kekuatan menarik, dia tetap membedakannya karena melihat perbedaan kadar sifat menarik dan sumber utama sifat kemenarikan itu. Awam menyebut seniman berkarya seni sedangkan Plato menganggap manusia sesungguhnya tak bisa mencipta melainkan hanya meniru–meski tampaknya dia sedang mencipta. Inspirasi adalah bukti bahwa ia terhubung dengan Sesuatu atau Seseorang yang lain, yang memberinya ide atau memberitahunya sesuatu.

Lihat Gambar:

Keterangan gambar:

1. Plato menyebut Ion sebagai batang besi yang menempel pada batang besi sebelumnya karena dia mendeklamasikan karya yang bukan karyanya sendiri melainkan karya Homer (sebut saja dia menempel pada Homer). Ion tak seharusnya berbangga karena dia bukanlah batang metal pertama yang langsung menempel pada Sumber Inspirasi melainkan batang metal kedua (untuk mempermudah, kali ini kita anggap Homer sebagai batang metal pertama tanpa mempedulikan apakah dia mendapat pengaruh dari sastrawan sebelumnya atau tidak) yang menempel di batang pertama.

2. Penonton sebagai batang metal terakhir yang menempel. Ini berarti bahwa, dalam rantai magnet Sumber Inspirasi-Homer-Ion-Penonton, penonton jelas berada di bagian akhir yang artinya, mendapat induksi magnet terlemah. Induksi magnet terlemah berarti bahwa jika diadu, metal terakhir adalah metal yang paling lemah daya tariknya karena terjauh dari magnet.

3. Dengan kata lain, bila daya tarik sama dengan informasi atau pemahaman, bisa dikatakan bahwa informasi atau pemahaman penonton tentang sesuatu adalah yang paling lemah atau paling kecil dan hal ini terjadi karena dalam proses transimi (pengalihan) informasi, dimungkinkan banyak terjadi “kebocoran” yang tidak dihindarkan. Sama halnya apabila anda meminta sekelompok orang berbaris memanjang dan anda membisikkan sesuatu pada orang pertama yang kemudian akan dibisikkan oleh orang pertama ke orang ke dua dan sebagainya. Jika barisan itu terdiri dari seratus orang, kemungkinan apa yang diucapkan oleh orang ke seratus tidak sama persis dengan apa yang anda maksud.

Makna lain analogi magnet

Dengan menggunakan analogi yang sama, Plato menyebutkan bahwa kejadian yang mirip juga terjadi pada para nabi atau utusan (prophet) dimana Tuhan sebagai magnet dan mereka sebagai batang besi yang menempel pada magnet tersebut. Kata-kata yang muncul dari mulut para utusan, sebagaimana kata-kata yang muncul dari tangan Homer, adalah milik Tuhan–dan para utusan serta Homer hanyalah “alat” dan bahwa inspirasi adalah nama lain dari bisikan ide yang mereka peroleh.

Plato vs umum tentang seni

Yang perlu diperhatikan adalah, Plato berbicara pada konteks filsafat. Dalam konteks umum, bahwa seniman berkarya (menciptakan) seni dapat diterima. Ini dikarenakan awam melihat dari sudut pandang berbeda: dunia kasat mata , bahwa si pelukis itu yang melukis, si musisi itu yang mencipta lagu. Sedangkan Plato, laiknya filsuf lain, melihat dari sudut pandang dunia ide. Di dunia ide Plato, Seni dihargai lebih tinggi (sengaja saya beri awal huruf kapital karena kata tersebut, dalam konteks ini, mewakili sesuatu yang agung) karena ia tak disejajarkan dengan manusia melainkan dengan Sumber Utama.*

13 Agustus 2009

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: